Tahun 2011 baru saja berlalu, dan sekarang kita sudah berada di tahun 2012. Setiap orang pasti mempunyai rencana masing-masing, yang pastinya harapan untuk menjadi/mendapatkan yang lebih baik dari tahun lalu.
Kali ini saya hanya ingin berbagi yang saya dengar dari salah seorang teman saya yang amat baik hati, Ana Mardiana, tentang materi yang baru didapatnya dari sebuah seminar psikologi yang telah diikutinya selama beberapa hari di sebuah universitas negeri terkenal beberapa waktu yang lalu.
Salah satu pembicara di seminar mengetengahkan tentang bagaimana kita harus merencanakan masa depan kita secara detil. Pembicara mengajukan pertanyaan begini : ketika kita melihat sebuah gedung bertingkat yang megah, apakah yang ada di benak kita? Bagaimana sebuah gedung itu bisa berdiri tegak? Tentunya sebelum gedung itu dibangun, diperlukan perhitungan yang matang agar ketika gedung telah berdiri, dia tidak akan roboh ketika terjadi goncangan, pun tidak terjadi goncangan sedikitpun, ia harus tegak berdiri dengan kokoh. Lalu mengenai bentuknya, kita tentu yakin, pastinya sang arsitek telah merancang bentuk bangunan tersebut. Apakah mau bentuk bulat, persegi atau bentuk lainnya, tentunya semua itu sudah dirancang dalam sebuah blue print. Betulkan?
Nah, sekarang.... bila dibandingkan dengan gedung itu, manakah yang lebih berharga? Diri kita, yang makhluk hidup ini atau gedung tersebut, yang notabene adalah benda mati? Tentu kita semua akan menjawab diri kitalah sebagai makhluk hidup yang tentunya lebih berharga daripada gedung yang hanya benda mati. Betulkan?
So, mengapa kita yang lebih berharga ini, tidak membuat blue print untuk diri kita?
Sedangkan sebuah gedung saja membutuhkan rencana matang untuk membangunnya, seharusnya kita lebih butuh membuat rancangan hidup untuk masa depan.
Jadi, mari kita membuat rencana terperinci untuk masa depan. Rencana yang baik, dengan harapan rencana itu akan terwujud. Walaupun nantinya rencana itu belum terwujud seluruhnya, paling tidak kita telah merancangnya
Monday, 2 January 2012
Sunday, 1 January 2012
Thursday, 29 December 2011
Konsentrasi
Aku terpaku menatap layar monitor. Begitu seriusnya. Hingga tak terasa bahwa ternyata bapak telah berada di dekatku, sedang mengangkat kasur yang sedang kududuki. Aku pun menoleh dan bertanya pada bapak,"Kenapa pak?"
Bapak pun menjawab,"Lho? memangnya kamu gak tau kalau adek kamu daritadi kehilangan kunci?"
Aku terdiam, pasalnya sudah sejak 20 menit yang lalu adekku sudah kembali ke rumahnya.
Bapak pun berkata padaku,"Kamu nih, kalau sudah pegang komputer gak dengar apa-apa.."
Aku hanya nyengir, meringis pahit. Entahlah, apakah ini termasuk anugerah atau kekurangan ya. Begitu mata dan fikiranku sudah terpaku pada satu sasaran, biasanya aku larut ke dalamnya, dan tak sadar dengan keadaan sekeliling. Istilahnya, konsentrasi....hihi..
Begitupun ketika aku sedang di rumah, biasanya aku tak pernah memikirkan urusan di kantor. Dan sebaliknya, ketika aku di kantor, tak pernah memikirkan hal di luar itu. Fokus. Makanya, aku tak pernah terganggu dengan hal2 sekeliling, kecuali ada orang yang menepuk pundakku, atau justru berteriak memanggil namaku dengan tiba-tiba. Makanya, aku terlihat seperti orang yang tak peduli. Padahal bukan tak peduli, tapi memang aku sedang konsentrasi dan tak sadar dengan keadaan sekeliling.
Jadi, kalau aku sedang nonton tv, atau menatap monitor, atau sedang mengerjakan sesuatu, jangan harap bisa mengajak aku ngobrol, karena pada saat itu seolah-olah telingaku sedang tertutup rapat..pett... begitu aja, dan kalaupun aku terkesan seperti mendengarkan apa yang orang bicarakan, tapi sebenarnya aku sedang gak nyambung kalau diajak ngobrol...haha.. maaappkan akuuu bapaakk...
*dan bapak pun menatap sebal padaku..:p*
*catatan iseng*
Bapak pun menjawab,"Lho? memangnya kamu gak tau kalau adek kamu daritadi kehilangan kunci?"
Aku terdiam, pasalnya sudah sejak 20 menit yang lalu adekku sudah kembali ke rumahnya.
Bapak pun berkata padaku,"Kamu nih, kalau sudah pegang komputer gak dengar apa-apa.."
Aku hanya nyengir, meringis pahit. Entahlah, apakah ini termasuk anugerah atau kekurangan ya. Begitu mata dan fikiranku sudah terpaku pada satu sasaran, biasanya aku larut ke dalamnya, dan tak sadar dengan keadaan sekeliling. Istilahnya, konsentrasi....hihi..
Begitupun ketika aku sedang di rumah, biasanya aku tak pernah memikirkan urusan di kantor. Dan sebaliknya, ketika aku di kantor, tak pernah memikirkan hal di luar itu. Fokus. Makanya, aku tak pernah terganggu dengan hal2 sekeliling, kecuali ada orang yang menepuk pundakku, atau justru berteriak memanggil namaku dengan tiba-tiba. Makanya, aku terlihat seperti orang yang tak peduli. Padahal bukan tak peduli, tapi memang aku sedang konsentrasi dan tak sadar dengan keadaan sekeliling.
Jadi, kalau aku sedang nonton tv, atau menatap monitor, atau sedang mengerjakan sesuatu, jangan harap bisa mengajak aku ngobrol, karena pada saat itu seolah-olah telingaku sedang tertutup rapat..pett... begitu aja, dan kalaupun aku terkesan seperti mendengarkan apa yang orang bicarakan, tapi sebenarnya aku sedang gak nyambung kalau diajak ngobrol...haha.. maaappkan akuuu bapaakk...
*dan bapak pun menatap sebal padaku..:p*
*catatan iseng*
Monday, 26 December 2011
pulang kampung
DOT Shafaa
Sudah beberapa minggu ini kami semua sedang mengusahakan agar Shafaa (keponakanku) tidak menghisap dot (mpeng) lagi. Tapi rupanya usaha kami masih belum menampakkan hasil yang memuaskan. Beberapa kali kami coba menyembunyikan dot-nya, tapi akhirnya luluh juga, ketika Shafaa mulai menjerit-jerit dan menangis meminta dot-nya. Duh, sudah begitu, jeritannya nyaring dan melengking sekali, bikin kami semua sakit telinga dan kepala... Saya yakin sekali, tetanggapun bisa mendengar jeritannya dari rumah mereka masing-masing.
Dan herannya, dia tetap dapat bicara meskipun dot masih menempel di mulutnya. Walaupun kadang ucapannya jadi gak terlalu jelas. Sering kami sengaja, bilang kalau bicara dia harus melepas dot-nya. Atau dibilang, bila dia sedang menghisap dot, nanti gak keliatan cantik (dia itu genit lho..hihi..
). Nah..kalau sudah begitu, dia akan langsung melepasnya, atau membuang dengan cara seperti meludahkan dot itu hingga terpental jauh.
Dan repotnya, kalau dot itu hilang, atau dia membuangnya entah dimana, tanpa sepengetahuan kami (padahal dia sendiri yang membuangnya, dan tuh bocah lupa pula tadi mbuangnya dimana), maka seisi rumah harus segera mencari. Di kolong kursi, di bawah lemari, di pojok ruangan, semua wilayah disusuri. Harus segera ditemukan kalau kami tidak mau mendengar jeritannya yang memekakkan telinga.. Bahkan bila dot itu tertinggal di rumahku, dan dia sedang ada di rumahnya, mau gak mau ayahnya harus mengambil dot itu ke rumahku, padahal jarak rumahnya lumayan jauh dari rumahku...ppyuuhhh..

Kalaupun dia sedang tidak menghisap dot-nya, biasanya dia mengganti dengan menghisap botol susunya, atau lain waktu jarinya dihisap juga.. susah sekali membuat dia bebas dari dot.
Sampai sekarang kami masih terus berusaha menghilangkan kebiasaannya menghisap dot. Entahlah, semoga saja bila Shafaa semakin besar nanti, akan ada rasa malu untuk tidak menghisap dot lagi.. ^_^
(tulisan iseng aja, karena bude-nya Shafaa lagi sebel denger jeritan dia minta dot :p)
Dan herannya, dia tetap dapat bicara meskipun dot masih menempel di mulutnya. Walaupun kadang ucapannya jadi gak terlalu jelas. Sering kami sengaja, bilang kalau bicara dia harus melepas dot-nya. Atau dibilang, bila dia sedang menghisap dot, nanti gak keliatan cantik (dia itu genit lho..hihi..
). Nah..kalau sudah begitu, dia akan langsung melepasnya, atau membuang dengan cara seperti meludahkan dot itu hingga terpental jauh. Dan repotnya, kalau dot itu hilang, atau dia membuangnya entah dimana, tanpa sepengetahuan kami (padahal dia sendiri yang membuangnya, dan tuh bocah lupa pula tadi mbuangnya dimana), maka seisi rumah harus segera mencari. Di kolong kursi, di bawah lemari, di pojok ruangan, semua wilayah disusuri. Harus segera ditemukan kalau kami tidak mau mendengar jeritannya yang memekakkan telinga.. Bahkan bila dot itu tertinggal di rumahku, dan dia sedang ada di rumahnya, mau gak mau ayahnya harus mengambil dot itu ke rumahku, padahal jarak rumahnya lumayan jauh dari rumahku...ppyuuhhh..

Kalaupun dia sedang tidak menghisap dot-nya, biasanya dia mengganti dengan menghisap botol susunya, atau lain waktu jarinya dihisap juga.. susah sekali membuat dia bebas dari dot.
Sampai sekarang kami masih terus berusaha menghilangkan kebiasaannya menghisap dot. Entahlah, semoga saja bila Shafaa semakin besar nanti, akan ada rasa malu untuk tidak menghisap dot lagi.. ^_^
(tulisan iseng aja, karena bude-nya Shafaa lagi sebel denger jeritan dia minta dot :p)
Monday, 19 December 2011
Subscribe to:
Posts (Atom)