Showing posts with label kejadianseharihari. Show all posts
Showing posts with label kejadianseharihari. Show all posts

Saturday, 20 August 2011

Mengejar Suami

Pagi menjelang siang, aku berangkat menuju kantor Telkom untuk membayar rekening teleponku yang jatuh tempo pembayarannya tepat hari ini. Sebenarnya agak malas juga. Enaknya kalau sudah di rumah, ya gak usah keluar-keluar lagi. Tapi berhubung ini hari terakhir pembayaran, yah dipaksa-paksa juga diri ini supaya mau berangkat.

Dengan mikrolet biru aku menuju kantor Telkom. Seperti biasa, sepanjang perjalanan aku paling suka melihat-lihat pemandangan di luar. Jalan-jalan yang berdebu, toko-toko, orang-orang berjualan, orang-orang yang sedang menunggu kendaraan juga, dan banyak kejadian yang dapat kulihat dari dalam angkot. Bersamaku ada empat orang lainnya. Dua orang ibu-ibu yang rupanya saling kenal. Mereka asyik mengobrol. Dan lainnya adalah seorang ibu dengan anak perempuannya usia kira-kira sembilan tahun yang juga mengobrol.

Sedang asyiknya kami dengan kegiatan masing-masing. Dari jauh kulihat seorang ibu, berlari setengah kencang, kadang juga pelan, sambil menenteng helm. Si ibu terus berlari, seperti mengejar sesuatu. Nampak kulihat tak jauh di depan ibu tersebut, ada sebuah motor yang melaju tidak terlalu kencang juga. Bila kulihat si ibu nampak hampir sampai pada motor tersebut, tiba-tiba motor yang dikejarnya melaju agak kencang. Dan bila si ibu mulai capek berlari, si motor nampak melaju pelan. Seperti bermain-main nampaknya. Tarik ulur... Tarik ulur... Seperti main layang-layang. Kami yang melihatnya dari jauh jadi agak geregetan juga.

Lama kelamaan perhatian kami semua yang ada di dalam angkot tersita hanya pada ibu tersebut. Dan ketika supir angkot yang kami tumpangi dapat mengejarnya, segera saja pak supir menanyakan ada apa. Si ibu dengan nafas yang terengah-engah dan keringat bercucuran (kelihatan sangat lelah), segera menjawab, bahwa dia sedang mengejar suaminya yang naik motor. Pak supir pun menawari si ibu untuk mengejar suaminya, dan menyuruh naik di angkotnya.

Kemudian perhatian kami beralih pada pengendara motor yang tadi kelihatan berjalan kadang pelan dan kadang cepat di depan si ibu. Namun ketika melewati pengendara yang dimaksud dan kami menunjuknya, si ibu berkata bahwa pengendara tersebut bukan suaminya, tapi suaminya sudah lebih dulu di depan lagi melaju. Masya Allah... dugaan kami salah semuaaa... Jadi suaminya yang dikejarnya sudah lebih jauuhh... tapi kenapa tadi si ibu lari teruuuss, kenapa gak langsung naik angkot ajaaa daritadiii... *gubraks*. Yah mungkin lagi panik, jadi lupa.

Setelah itu kami segera fokus mengejar suami si ibu. Sambil kami mengejar, dengan nafas yang tersengal-sengal si ibu bercerita bahwa dia baru saja pulang dari rumah orangtuanya dan tadi dia ngambek pada suaminya. Dan dengan agak kesal dan mungkin sedikit merajuk, dia menyuruh suaminya pergi. Sebenarnya si ibu tidak benar-benar bermaksud menyuruh suaminya pergi. Tapi rupanya ucapannya itu ditanggapi serius oleh sang suami, jadi segera saja suaminya pergi meninggalkannya walaupun si isteri memanggil dan mengejarnya. Dan ketika suaminya benar-benar pergi, si ibu mengejarnya sepanjang jalan. Dan pemandangan itulah yang kami lihat tadi. Rupanya suaminya ngambek juga..

Duuh... ibu... kok bisa begitu sih? *bingung, garuk2 kepala*

Terus suaminya kok tega ninggalin isterinya beneran? *tambah bingung, gak garuk2 kepala lagi, gak gatel sih :p*

Dua-duanya sama-sama ngambek jadinya...

Sampai aku harus turun lebih dulu dari mikrolet biru, si ibu masih dalam misi mengejar suaminya, bersama pak supir dan dua orang ibu yang tersisa. Entah si suami terkejar atau malah tertinggal jauh. Aku gak tau. ###

Pesan moral dari kejadian itu, apa ya? emm... kalau ngambek, mungkin jangan keterlaluan ya.. entahlah... *bingung aja ada kejadian macam begitu :p*