Sunday, 17 July 2011

[Random Snippets Kitchen] OREO Mini Cheesecake

Sebagai penyuka makanan apa aja, (kecuali buah kesemek :p... karena rasanya tanggung, manis gak, asem juga gak, trus tekstur buahnya kok kayak bit ya?? ditambah lagi buah ini selalu pakai bedak...iihh buah yang genit...hehe... eh..malah ngelantur ke kesemek...maap :p), tentunya saya juga sangat menyukai coklat dan keju. Makanya, begitu ada lomba masak yang diadakan mba Vina di sini dan diantaranya ada resep Oreo Mini Cheesecake ini yang memadukan rasa coklat dan rasa keju, saya langsung mantap memilih resep ini sebagai resep yang pertamakali akan dicoba...

Di resep ini saya pakai 14 buah Oreo (di resep pakai 12 buah), karena sewaktu adonan sudah dituang semua, ternyata masih ada kelebihan, makanya saya tambah lagi 2 buah dan yang dua itu pakai loyang muffin yang terpisah, jadi total pake dua loyang (gak penting banget ya jelasin soal ini? *garuk2*).

Bikinnya agak-agak riweh, pasalnya keponakan saya, Shafaa, sempat ikut-ikut mau bikin juga, plus tanya macam-macam... Pertanyaan semacam,"Apa tu ni?" (dia menyebut kata "apa itu apa ini" menjadi "apa tu ni" ^_^) terus keluar dari mulutnya, membuat saya agak pusing menjawab pertanyaan-pertanyaannya, dan jadi gak terlalu konsentrasi (beuh..gayanya :p) dalam pembuatan kue ini. Akibatnya, gula pasir yang seharusnya 1/2 cup, sempat saya takar jadi 1/4 cup. Untung saja pada waktu mengocok saya langsung cek lagi resep dan saya ingat baru menakar 1/4 cup, jadi tinggal ditambah kira-kira berapa sendok supaya jadi 1/2 cup.

 

Pada saat harus menghancurkan Oreo, saya bingung. Dipatah-patahin kurang hancur. Mau diblender takut terlalu hancur. Akhirnya, saya masukkan semua Oreo itu ke dalam plastik, trus diketok-ketok pake ulekan....hihihi... hancurnya sesuai harapan..

Proses pengocokan lancar. Kemudian pemanggangan. Pada saat memanggang, saya baca di resep Mba Vina kalau kue dipanggang 20 menit. Tapi dasar bandel, waktu saya liat di oven adonan sudah mulai naik dan sudah 20 menit, saya berfikir untuk menambah waktu 5 menit lagi. Jadi kue yang saya panggang ini 25 menit, tidak sesuai harapan. Akibatnya kue menjadi agak hangus, dan teksturnya agak padat sedikiiittt, tapi masih tetep lembek, apalagi pas bagian Oreo-nya (lho Oreonya juga udah coklat warnanya ya? :p). Jadi kue saya gak cantik. Gak seperti yang di resep..hiks...

Untungnya, kue itu tetap enaakk... Buktinya, semua suka. Adek saya suka, dia bilang kayak makan es krim. Keponakan saya, Danish, yang susah makan, ternyata suka juga. Apalagi Shafaa... Alhamdulillah, berarti termasuk berhasil menurut saya, walaupun agak gosong...hihihi... *ngeles*. Ya sudahlah, gak apa-apa, lain waktu mau coba lagi, yang gak hangus ^_^. Terima kasih Mba Vina, udah berbagi resepnya

Ini dia resepnya : OREO Mini Cheesecake

Bahan-bahan :

14 buah OREO Cookies, dibiarkan utuh

3 buah OREO Cookies, dihancurkan
1/2 cup gula pasir
250 gr cream cheese (suhu ruangan), saya pake merk Yummi (ketemunya itu di supermarket)
1/2 sdt vanilli bubuk

2 butir telur ukuran besar, dikocok lepas
1/2 cup yogurt plain

sedikit garam (seujung sdt aja)


Cara membuat :

1. Panaskan oven 150 C (275 F). 

Letakkan paper cup diatas loyang muffins (Cetakan muffin umumnya 12 lubang, saya pake Oreo 14  buah jadi dua loyang, nanggung ya?).
Tata biskuit OREO pada masing-masing cup.

 

2. Dengan mixer kecepatan medium, kocok cream cheese sampai halus.
Tambahkan 1/2 cup gula, kemudian vanilla.
Tambahkan telur yang sudah dikocok ke dalam mixer yang tetap menyala

3. Tambahkan yoghurt plain dan garam. Masukkan kremesan OREO, aduk rata. Tuang adonan ke dalam muffin cup sampai hampir penuh.

 

4. Panggang sampai bagian pinggirnya mengeras tapi bagian tengahnya masih agak lembek, sekitar 20 menit. Dinginkan diatas rak kawat beserta loyangnya. Bungkus loyang dengan plastik, masukkan ke kulkas sampai dingin (di resep mba Vina, disimpan di kulkas 4 jam atau semalaman, tapi saya, asal udah dingin langsung dimakan, gak sabaran mau nyoba ). 

5.  Keluarkan kue dari loyang, dan lepaskan cake dari wadahnya.
Tata mini cheesecake diatas piring dengan membaliknya, sehingga bagian atas berada dibawah dan biskuit OREO keliatan.

Wednesday, 13 July 2011

Talkshow Keluarga




Assalamu 'alaikum,
Dear frens,

Seperti janji saya ketika mengadakan lelang disini : http://iahsunshine28.multiply.com/photos/album/109/Lelang_Asyik..., untuk menambah dana acara talkshow keluarga, bahwa nantinya saya akan menampilkan foto-foto acara, jadi inilah dia, beberapa foto yang merekam kejadian acara. Maaf agak lambat kasitau (lewat seminggu :p), maklum, upload fotonya bertahap, dan lumayan lama (inet lemot).

Sedikit mau curhat (lho??)..^_^..
Seperti yang sudah diketahui secara tersirat, bahwa bulan-bulan belakangan ini, saya dan teman-teman mencoba mencari dana untuk acara ini dengan mengajukan beberapa proposal ke berbagai perusahaan. Banyak pelajaran yang saya dapatkan. Tentang cara bernegosiasi, cara menghadapi orang yang mbulet (mbulet...inget kata2 Anaz sama mba Niez...hihihi..), dan lain-lain. Diantaranya ketika kami mengajukan proposal pada instansi/perusahaan, ada yang menolak dengan alasan mereka hanya memberikan bantuan untuk yatim piatu dan orang miskin, bukan untuk acara semacam ini (talkshow, seminar, de el el). Kesannya mereka kurang tertarik dengan event semacam ini. Padahal (dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada mereka yang telah memberikan bantuan untuk yatim piatu, dsb), kalau saya fikir, memberikan ilmu lewat acara seperti ini juga penting. Memberikan bantuan dan support pada acara semacam ini, kalau kita ikhlas lillahi ta'ala, insya Allah juga termasuk ke dalam memberikan tambahan ilmu dan menjadikan seseorang menjadi lebih baik. Karena ilmu yang bermanfaat bila diamalkan oleh yang mendapatkan ilmunya, termasuk salah satu amal jariah yang tidak akan putus walaupun kita sudah wafat, betulkan?
Kalau kita fikir, kasihan juga kan kalau ada ibu-ibu rumah tangga yang perlu tahu ilmu mendidik anak dari pakarnya langsung (psikolog), tapi gak ada yang peduli dan bisa memfasilitasi? *sok tau lagi ya saya? gak apa2 ya....hehehe*
Atau mungkin pos untuk pengeluaran itu beda ya? ^_^

Ya okelah, pokoknya begitu deh *nyengir*
Alhamdulillah, di luar dari yang memberikan alasan seperti di atas, masih ada juga instansi/perusahaan yang memberi bantuan, baik berupa uang, maupun barang (buku, dan lainnya)... termasuk teman-teman mp... Dan uang hasil lelang di mp langsung bisa digunakan keesokan harinya (menambah yang masih kurang), dan acara berjalan lancar dan meriah.

Saya ucapkan terima kasih atas bantuan teman-teman semua yang telah mendukung acara lelang dan mendukung acara talkshow ini. Semoga bantuannya mendapat balasan kebaikan dari Allah SWT... Amiinn...
Mudah-mudahan, ilmu yang telah diberikan oleh Ibu Sri Rejeki dan Ust. Syahroni M, Lc dapat berguna buat ibu--ibu semua yang telah mengikuti talkshow tersebut. O iya, insya Allah nanti saya bagi juga materi talkshow buat teman-teman, di lain kesempatan ^_^...
So, cekidot ^_^

Wassalam,
Iah

Tuesday, 12 July 2011

Suamiku itu...

Di suatu hari, saat saya dan seorang teman sedang menikmati makan siang bersama, lesehan tanpa tikar, teman saya berkata begini,”Duh, iri rasanya kalo ngeliat si A”, matanya memandang pada teman saya yang lain, yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Saya bertanya,”Kenapa?” Teman saya melanjutkan,”Iya, kalau liat si A, enak rasanya, Liat aja tuh, sementara A sibuk, suaminya mau jaga anak sambil mendorong-dorong kereta bayinya, kalau pergi kemana-mana juga pasti dianterin, dan pasti ditungguin”. Sambil tersenyum saya pun ikut memandang teman saya si A, dan hanya menjawab dengan pertanyaan,”Kompak ya?”

 

Teman saya pun meng-iyakan pertanyaan saya.

Kemudian dia melanjutkan,”Gak kayak si mas (suaminya), tadi aja mau berangkat kesini dimarahin gara-gara…bla..bla…bla…” Intinya sang suami tidak mendukungnya ketika sang isteri membutuhkan dukungan. Ketika suaminya sedang ada acara, sang isteri tidak boleh menghubunginya sama sekali (meskipun ada keperluan dengan sang suami), baik melalui pesan singkat sms, apalagi meneleponnya, sementara ketika sang isteri sedang melakukan kegiatan, sang suami boleh-boleh saja mengganggunya kapanpun. Egois? Mungkin.. Silahkan berfikir sendiri...

 

Saya hanya terdiam mendengarkan keluhan teman tersebut. Hanya sesekali mulut saya menggumamkan kata,”ooh”…”emm’’”. Tak tahu mau jawab apa. Pengalaman saya belum sampai kesana. Kalaupun saya ingin memberi saran, nanti dibilang sok tahu. Yang bisa saya lakukan hanya mendengarkan dengan tekun curahan hatinya, berharap dengan begitu bebannya bisa sedikit berkurang.

 

Dalam hati saya mempertanyakan juga sikap suaminya (dan mungkin suami-suami lain yang seperti itu), apa salahnya bila suami mendukung kegiatan isterinya jika kegiatan itu dapat membawa kebaikan? (apalagi aktivitas dakwah). Apa salahnya jika suami dapat menjaga anak mereka barang sejenak (sejenak disini hanya dua jam dalam seminggu yaa, gak setiap hari lho) jika sang isteri sedang membutuhkan waktu untuk menambah ilmunya?

Terkadang dukungan bukan berarti harus mengantar jemput sang isteri setiap waktu ketika isteri harus bepergian. Dengan menyetujui/mengiyakan dan membiarkan isteri mempunyai waktunya sendiri, itu sudah cukup menandakan dukungan. Dengan ikut menjaga anak ketika isteri sedang beraktivitas (catet : aktivitas syar’I yang memang mengharuskan dia keluar ya) itu juga bentuk dari dukungan.

 

Dengan adanya dukungan, pastinya sang isteri dapat menjalani aktifitasnya dengan  tenang dan bahagia, sehingga insya Allah hasil kerjanya dapat lebih baik.

Alangkah indahnya melihat kekompakan itu, kekompakan suami dan isteri dalam beraktifitas, seperti yang saya lihat pada teman A.

 

Bahkan sekedar jawaban persetujuan bisa jadi sudah sangat menyenangkan bagi sang isteri. Misalnya ketika isteri sedang memakai baju baru, kemudian menanyakan,”Mas…Bagus gak bajunya?” Cukuplah dijawab,”Bagus”… Saya yakin hal itu pasti sudah membuat hati isteri berbunga-bunga (meskipun pada kenyataannya baju itu gak bagus dalam pandangan suami…hehehe..). Atau kalaupun ternyata gak cocok, ya bisa diberitahu dengan cara yang baik misalnya,”Bagus Dek, tapi kayaknya lebih cocok pake yang ini..”

Bukan dengan kalimat,”Gak ada bagus-bagusnya tuh baju dipakenya…ganti!” *langsung merengut/mangkel isterinya…hihi*

 

Berkaca pada pengalaman teman ini (ya pastinya setiap suami atau isteri mempunyai kekurangan masing-masing), saya jadi berharap, semoga saja kelemahan suami saya kelak bukan pada hal ini. Semoga saja suami saya nantinya adalah orang yang paling mendukung apapun kegiatan-kegiatan positif yang saya lakukan, supaya hati ini lebih tenang ketika menjalaninya dan dapat menghasilkan sesuatu yang lebih maksimal.

 

*sekedar coretan, mengamati curhatan teman, semoga ada hikmahnya… maaf klo saya terkesan sok tau....hihihi, buat mak-mak/bapak-bapak yang lebih berpengalaman, boleh tambahin... atau kritik saya, tapi jangan dilempar sendal*

Begini nih, klo beli mobil sekaligus dua... begitu mau transfer, bingung... yang satu tranfer kemana, yang satu kemana...semrawut... pabaliwet...hhhmmm.... bete banget...