Showing posts with label rumahtangga. Show all posts
Showing posts with label rumahtangga. Show all posts

Tuesday, 12 July 2011

Suamiku itu...

Di suatu hari, saat saya dan seorang teman sedang menikmati makan siang bersama, lesehan tanpa tikar, teman saya berkata begini,”Duh, iri rasanya kalo ngeliat si A”, matanya memandang pada teman saya yang lain, yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Saya bertanya,”Kenapa?” Teman saya melanjutkan,”Iya, kalau liat si A, enak rasanya, Liat aja tuh, sementara A sibuk, suaminya mau jaga anak sambil mendorong-dorong kereta bayinya, kalau pergi kemana-mana juga pasti dianterin, dan pasti ditungguin”. Sambil tersenyum saya pun ikut memandang teman saya si A, dan hanya menjawab dengan pertanyaan,”Kompak ya?”

 

Teman saya pun meng-iyakan pertanyaan saya.

Kemudian dia melanjutkan,”Gak kayak si mas (suaminya), tadi aja mau berangkat kesini dimarahin gara-gara…bla..bla…bla…” Intinya sang suami tidak mendukungnya ketika sang isteri membutuhkan dukungan. Ketika suaminya sedang ada acara, sang isteri tidak boleh menghubunginya sama sekali (meskipun ada keperluan dengan sang suami), baik melalui pesan singkat sms, apalagi meneleponnya, sementara ketika sang isteri sedang melakukan kegiatan, sang suami boleh-boleh saja mengganggunya kapanpun. Egois? Mungkin.. Silahkan berfikir sendiri...

 

Saya hanya terdiam mendengarkan keluhan teman tersebut. Hanya sesekali mulut saya menggumamkan kata,”ooh”…”emm’’”. Tak tahu mau jawab apa. Pengalaman saya belum sampai kesana. Kalaupun saya ingin memberi saran, nanti dibilang sok tahu. Yang bisa saya lakukan hanya mendengarkan dengan tekun curahan hatinya, berharap dengan begitu bebannya bisa sedikit berkurang.

 

Dalam hati saya mempertanyakan juga sikap suaminya (dan mungkin suami-suami lain yang seperti itu), apa salahnya bila suami mendukung kegiatan isterinya jika kegiatan itu dapat membawa kebaikan? (apalagi aktivitas dakwah). Apa salahnya jika suami dapat menjaga anak mereka barang sejenak (sejenak disini hanya dua jam dalam seminggu yaa, gak setiap hari lho) jika sang isteri sedang membutuhkan waktu untuk menambah ilmunya?

Terkadang dukungan bukan berarti harus mengantar jemput sang isteri setiap waktu ketika isteri harus bepergian. Dengan menyetujui/mengiyakan dan membiarkan isteri mempunyai waktunya sendiri, itu sudah cukup menandakan dukungan. Dengan ikut menjaga anak ketika isteri sedang beraktivitas (catet : aktivitas syar’I yang memang mengharuskan dia keluar ya) itu juga bentuk dari dukungan.

 

Dengan adanya dukungan, pastinya sang isteri dapat menjalani aktifitasnya dengan  tenang dan bahagia, sehingga insya Allah hasil kerjanya dapat lebih baik.

Alangkah indahnya melihat kekompakan itu, kekompakan suami dan isteri dalam beraktifitas, seperti yang saya lihat pada teman A.

 

Bahkan sekedar jawaban persetujuan bisa jadi sudah sangat menyenangkan bagi sang isteri. Misalnya ketika isteri sedang memakai baju baru, kemudian menanyakan,”Mas…Bagus gak bajunya?” Cukuplah dijawab,”Bagus”… Saya yakin hal itu pasti sudah membuat hati isteri berbunga-bunga (meskipun pada kenyataannya baju itu gak bagus dalam pandangan suami…hehehe..). Atau kalaupun ternyata gak cocok, ya bisa diberitahu dengan cara yang baik misalnya,”Bagus Dek, tapi kayaknya lebih cocok pake yang ini..”

Bukan dengan kalimat,”Gak ada bagus-bagusnya tuh baju dipakenya…ganti!” *langsung merengut/mangkel isterinya…hihi*

 

Berkaca pada pengalaman teman ini (ya pastinya setiap suami atau isteri mempunyai kekurangan masing-masing), saya jadi berharap, semoga saja kelemahan suami saya kelak bukan pada hal ini. Semoga saja suami saya nantinya adalah orang yang paling mendukung apapun kegiatan-kegiatan positif yang saya lakukan, supaya hati ini lebih tenang ketika menjalaninya dan dapat menghasilkan sesuatu yang lebih maksimal.

 

*sekedar coretan, mengamati curhatan teman, semoga ada hikmahnya… maaf klo saya terkesan sok tau....hihihi, buat mak-mak/bapak-bapak yang lebih berpengalaman, boleh tambahin... atau kritik saya, tapi jangan dilempar sendal*