Showing posts with label kopaja. Show all posts
Showing posts with label kopaja. Show all posts

Monday, 2 January 2012

Kriminalitas di Angkot

Pagi ini seperti biasa saya naik Kopaja jurusan Blok M. Untuk beberapa puluh menit perjalanan, keadaan masih normal. Hari ini Jakarta kembali macet (normal kan? kalau kemarin tuh belum normal, pasalnya kemarin jalanan sepi banget :p), bus penuh sesak (ini juga normal lho :p) dan pengamen-pengamen berseliweran keluar masuk angkot.

Awalnya pengamen yang masuk adalah seorang ibu muda, usia belasan tahun (atau berpura-pura menjadi ibu?) yang mengamen sambil menggendong anak usia sekitar tiga tahunan. Seperti yang sudah kuhafal, karena saya sering bertemu dengannya, dalam hati saya berujar, "pasti lagunya 'pelangi-pelangi' lagi". Eeehh betul juga, dia menyanyikan lagu anak-anak itu, dengan gaya dicadel-cadelkan seperti anak kecil (padahal lain waktu saya pernah bertemu dia sedang menjual tissue dengan teriakan yang lantang dan tidak cadel lho). Dan juga ketika dia masuk, bus sedang cukup penuh dengan penumpang, namun dengan memaksakan diri, dia terus menyelusup di antara penumpang yang ada, masuk dari pintu belakang dan terus menuju ke depan (untung waktu itu saya duduk).

Setelah menyanyikan lagu, dia pun segera mengulurkan bungkus permen, meminta uang sebagai balas jasa menyanyi. Sementara si anak yang di gendongnya, minta turun dari gendongan (dari wajahnya kelihatan seperti bukan anaknya, gak mirip). Selesai meminta uang kepada semua penumpang, maka dia pun turun. Masih normal.
 
Selang beberapa saat kemudian, masuklah dua orang pemuda. Yang satu berbadan gempal, yang satu lagi berbadan kurus. Si gempal berdiri di bagian depan, sedang si kurus berdiri di belakang. Tadinya saya fikir mereka juga mau mengamen. Tapi ternyata..eeehhh... mereka itu kayak mau merampok saja. Bagaimana gak disebut begitu? Baru masuk bus saja, si gempal yang membawa sebilah silet, sudah berkoar-koar,"Daripada kami mencopet atau menodong, atau daripada kami menyilet tas anda, lebih baik anda menyerahkan uang seribu atau dua ribu kepada kami".
Sementara si kurus yang ada dibelakang, mengiyakan ucapan temannya.

Wiiihh... mendengar apa yang diucapkan si gempal, nyaliku agak ciuutt.. Sambil berzikir pelan-pelan, aku berkata dalam hati,"Gak bakalan gue kasih uang ke orang macem itu, walaupun cuma seribu, enak aja minta pake ngancem, kalo mau, ya ngamen aja... menghibur dong.. Lha ini..bukannya menghibur malah bikin takut...hiiihhh!"
Tapi lucunya, ketika saya bertekad seperti itu, jantung saya dag dig dug gak karuan. Aaiihhh.. ini namanya gak sinkron ah..hihi... Tenang doongg.. Begitulah ucapan batin saya.
Dan saya terus saja berzikir dan niat gak bakal kasih uang kepada mereka *ngotot*.

Bukan juga karena saya pelit yaaa... saya cuma gak rela kasih uang buat orang muda yang kuat dan masih mampu bekerja, yang bisanya hanya mengancam seperti itu.

Si gempal terus melaksanakan aksi terornya, berteriak-teriak meminta uang, sambil menorehkan silet di kertas yang dia bawa, hingga kertas itu hancur dan bertebaran, seolah-olah memberi contoh bahwa dia bisa saja menyilet kami. Dia mondar mandir, dari belakang ke depan, sambil sesekali mengancam dan mendekatkan wajahnya pada seorang ibu yang duduk di depan. Sementara aku terus berzikir sambil menutup mulut dan hidung saya dengan saputangan, berharap agar wajah saya tak terlalu dikenali mereka (lagi polusi juga kan?).

Selesai mengancam dengan begitu rupa, si gempal pun segera menjalankan aksi selanjutnya, meminta uang pada tiap penumpang, satu persatu didatangi. Mulai dari penumpang paling depan. Rupanya seorang ibu tidak mau memberi uang padanya. Ibu itu hanya diam, tak memberi isyarat juga kalau dia tak mau memberi uang. Hal ini membuat si gempal kesal. Dengan konyolnya, si gempal terus saja memandang si ibu dan sambil terus menadahkan tangan. Nampak agak lama dia di depan si ibu tersebut. Melihat itu saya jadi sedikit ngeri. Bagaimana kalau giliran saya nanti? Aduuhh..pada kemana juga ini polisi? Memang gak ada polisi yang memperhatikan sampai kedalam bus, tapi kalau berharap kan boleh ya? hikkss.

Akhirnya si gempal memberi petunjuk dengan bersuara keras,"Kalau gak mau ngasih duit, ya gimana kek, isyarat pake tangan, jangan diem aja buu!"

Dalam hati saya berkata,"Oh ok, gue gak mau kasih uang ke elu, ntar gue kasih isyarat tangan aja yaaa"...hihihi..

Hampir semua penumpang memberi uang, termasuk orang yang duduk di sebelah saya. Ketika giliran saya yang dimintanya, sambil tetap menutup hidung dan mulut saya dengan saputangan, saya pun memberi isyarat tak memberi dia uang. Saya pun menunggu reaksinya. Syukurlah, Alhamdulillah....ternyata dia tidak memandangi saya terus dan tidak kesal karena saya tak memberinya uang. Dia pun segera beralih ke penumpang di seberang saya, seorang lelaki yang juga tak memberi uang padanya. Dan bagusnya lagi lelaki itu pun tak diteriakinya. Si gempal segera berlalu meminta uang pada penumpang selanjutnya dan kemudian meminta uang ke belakang.

Selesai meminta uang, tak seperti biasanya, mereka tak langsung keluar bus, tapi ternyata ngobrol. Mereka membicarakan tentang penumpang-penumpang yang mereka ancam tadi, dan nampak terus mengawasi kami.

Waktu itu saya sudah benci banget sama mereka. Maunya mereka segera turun, agar kami merasa aman. Mauuu aja lapor polisi, tapi gimana caranya? Gimana kalau mereka tahu bahwa ada pelapor di dalam kopaja? *Sigh*
Saya ngeri juga kalau mereka mengenali saya *sok tenar ah..hihi*

Satu persatu penumpang yang turun, diberi ucapan'"Hati-hati ya bu turunnya, jangan buru-buru..".. Hiiiyyy... tambah nyebelin aja mereka itu. Maunya apa siyy?? Tadi mengancam kemana-mana, sekarang pura-pura baik. Yang ada setiap penumpang bergeser ke depan bila mau turun. Takut, tentu saja.

Akhirnya saya merasa sedikit lega, ketika di Mampang mereka turun, dan pindah ke bus lainnya. Dalam hati saya berkata,"hhmmm... mangsa selanjutnya, kasian, pasti penumpang di bus itu stress juga diancam mereka"..

Hhhmmm.. Kriminalitas terjadi dimana-mana, termasuk di Kopaja langganan saya. Saya hanya berharap, semoga saja besok gak bertemu mereka lagi. Ngeri. Benci. Khawatir. Khawatir kalau ternyata mereka menjadi langganan pengancam yang tiap hari masuk bus yang kutumpangi... Hiiyy...ngeri.. Kalau lagi begini, saya jadi berharap ada razia preman lagi. Supaya mereka tidak menteror penumpang bus lagi.
Dan...semoga saja saya tidak bertemu mereka lagi ya.. *jadi pengen naek motor aja kalau begini*