Sunday, 31 July 2011

Belajar Membuat Bros




Ahad pagi, asyiknya ngumpul-ngumpul sambil membuat bros aklirik. Alhamdulillah, yang diajarin pinter-pinter (aku cuma ngajarin awalnya aja), jadi hasilnya cantik-cantik.. Semoga bermanfaat ilmu yang didapat...^_^

Friday, 29 July 2011

Cuma mau Cerita...Keramas

Sore itu, saya hendak mencuci rambut. Yah, sudah lengket rasanya rambut ini. Berminyak dan lepek. Maka, berbekal shampoo kemasan berenteng yang saya beli beberapa hari sebelumnya, merk langganan saya, dengan bungkusnya yang berwarna merah campur putih, saya pun ke kamar mandi. Seperti biasa, saya basahi terlebih dahulu rambut. Kemudian, saya sobek kemasan shampoo tersebut, menuangkan cairan putih yang ada di dalamnya ke telapak tangan dan memberi air sebagai campuran. Kemudian campuran itu saya gosokkan ke kepala. Hmm... gak berbusa. Pasti ini karena rambut saya memang benar-benar kotor. Tapi saya baru dua hari yang lalu keramas juga. Dan reaksinya sama, shampoo yang saya pakai tidak menimbulkan busa. Ooohh, iya... biasanya sesuai anjuran yang tertulis di kemasan, kita harus mengulang keramas dua kali, baru yang kedua biasanya berbusa. 

Ok... saya pun membilas rambut, kemudian mengoleskan kembali shampo yang dicampur air. Reaksinya? Sama, shampo ini tak mengeluarkan busa. Sambil menggosok-gosok rambut, saya berfikir dalam hati, apa saya sudah membeli shampo yang kadaluarsa? Hmm... ketipu dong... Sebel sendiri...

Sambil rambut masih lengket dengan shampo, saya coba cek tanggal kadaluarsa... gak ada tulisan kadaluarsa... Saya bolak balik bungkus shampo, saya baca bagian depannya.... Di situ tertulis "conditioner"... *Gubrak! cengar cengir sendiri di kamar mandi* Hyaahh... Rupanya sudah dua kali saya keramas dengan conditioner, pantas saja, dua hari yang lalu juga gak berbusa juga..

Pesan moral : Teliti sebelum membeli...

Bingkisan Menjelang Ramadhan




Tadi pagi, setelah menghirup segelas air dingin yang berhasil membuat saya menjadi sejuk (di kepala dan di hati), setelah berkutat dengan kemacetan, tiba-tiba saya dikejutkan dengan sapaan seorang teman. Tak hanya menyapa, tapi dia juga membawa sebuah bungkus plastik yang isinya ternyata, seperangkat alat sholat *dibayar tunai...hihi :p*, yaitu mukena dan sarungnya, ditambah postcard kartun bergambar. Ternyata itu titipan pemberian salah satu boss saya, dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Yeaah...senangnyaaa.... Dan yang sangat menarik perhatian saya adalah postcard yang disertakan bersama bingkisan itu. Gambarnya lucu, gambar boss bersama anggota keluarganya dengan desain karikatur, ditambah puisi. Unik.

Isi puisinya :
Jika semua harta adalah racun, zakat lah penawarnya
Jika seluruh umur adalah dosa, tobatlah obatnya
Jika seluruh bulan adalah noda, ramadhanlah pemulihnya
Selamat menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan 1432 H
Mohon maaf segala kesalahan lahir dan bathin..

Segera setelah menerima bingkisan itu, saya segera menghampiri ke ruangan beliau dan mengucapkan terima kasih ^_^.

O iya, menyambut bulan ramadhan ini, saya juga mau mengucapkan mohon maaf lahir bathin, suka komen yang macam-macam di lapak orang, bisa jadi menimbulkan kesalahan... jadi mohon dimaafkan yaaa...
Juga saya berharap semoga ibadah kita di bulan ramadhan, lancar dan sukses, dan yang paling penting diridhoi Allah SWT.. Amiiin...
Selamat Menjalankan ibadah Ramadhan..
Semangaatt!!

wassalam,
iah

Thursday, 21 July 2011

Dikejar-kejar



Sekedar mengenang masa lalu. Bukan mau ge-er ya, tapi entah apa sebenarnya yang membuat orang selalu mengejarku (dalam arti yang sebenarnya). Mungkin karena wajahku yang dulu terkesan seperti orang gak berdaya/mudah ditindas (sampai pernah berdo'a Ya Allah, tolong bikin wajahku jadi keliatan galak, supaya orang-orang jadi takut...hihi..). Atau mungkin karena waktu kecil aku ini berbadan kecil di antara teman sebaya. Sampai rasanya capek sendiri.


Pengalaman pertamax, waktu itu aku baru mau masuk di kelas satu Sekolah Dasar. Ada seorang tetanggaku, sebutlah namanya Z, usia sebaya denganku, tapi dia beda sekolah. Dia masuk siang, sedangkan aku masuk pagi. Walaupun kami bertetangga, aku gak dekat dengannya. Pasalnya, si Z itu anak yang lumayan nakal, sering menjahili teman, dan aku gak suka dengan anak yang jahil. Nah, kejahilan si Z ternyata juga menimpaku. Ketika aku berangkat sekolah (sekolah gak dihantar ortu loh... mandiri je..^_^), dia pasti menghadang jalanku. Sambil merentangkan tangannya Z  berkata galak,"Hayoo, mau kemanaaa?" Setiap aku berlari ke sisi lain, dia mengikutiku sambil terus merentangkan tangannya. Begitu terus. Diperlakukan begitu, aku jadi ketakutan, berlari menghindar, dia pun mengejarku sampai aku lari terpontang-panting dan dia gak bisa mengejarku lagi. Kalau difikir sekarang, untuk anak sekecil aku dan dia, padahal jalannya kan lebar, kalau mau bisa aja aku lari dan gak perlu ketakutan begitu. Yah, namanya juga anak-anak. Begitulah, hampir setiap hari, Z selalu menunggu di jalan, sebelum aku berangkat sekolah. Menunggu hanya untuk menghadang jalanku dan mengejarku, sampai akhirnya dia bosan sendiri (tahulah aku darimana hobi lariku ini...hihi..). Dan herannya, orang dewasa yang ada di sekitar yang melihat perbuatan Z, bukannya menolongku, tapi justru mentertawakan, atau hanya basa-basi mengomel sekedarnya pada Z. Padahal waktu itu aku benar-benar tertekan dengan sikap Z.

Pengalaman keduax, sewaktu aku baru masuk di kelas dua Sekolah Dasar. Aku yang sebelumnya di kelas satu dan masuk pagi, kini di kelas dua harus masuk siang, dan berbeda suasana dan juga kakak kelas. Kalau kakak kelasnya baik gak apa-apa. Tapi ini, ada kakak kelas di kelas empat, yang hobinya mengejar-ngejar adik kelasnya. Namanya Juli, bocah lelaki berbadan gemuk dan besar dibandingkan anak-anak sebayanya. Dialah yang hobi mengejar adik kelas setiap hari sebelum bel masuk berbunyi. Jadi selama beberapa bulan di awal caturwulan (kalo gak salah, dulu nyebutnya begitu, bukan semester), aku dan beberapa teman-teman perempuan harus sport jantung. Olahraga menjelang siang, lari-lari menelusuri jalan kampung di sekitar sekolah kami, kalau tidak mau ketemu Juli dan kena kejahilannya. Jadi, setiap hari, ketika baru sampai kelas, dan hanya sempat meletakkan tas, aku dan teman-teman langsung kabur, untuk menghindar kejaran Juli. Kalau bel masuk sudah berbunyi, dengan jantung berdebar hebat dan keringat bercucuran, kami mengendap-endap menunggu Juli masuk kelas dulu, baru kami mengikuti. Duh capeknya..

Pengalaman ketigax. Ini juga sewaktu aku masih SD. Tahu kan kalau zaman dulu (duluuu banget...hihi..), masih ada tukang minyak yang jualan keliling kampung. Nah, salah satu tukang minyak yang biasa keliling di lingkungan rumahku, namanya Bang Jojon. Rambutnya panjang sebahu, dan dia selalu memakai topi yang mirip koboi.. Dia juga salah satu orang yang sering mengejarku. Sambil mendorong gerobak minyak, kadang-kadang dia memukul salah satu drum minyaknya, sehingga menimbulkan kebisingan. Mungkin maksudnya hanya iseng menakut-nakuti anak-anak. Tapi herannya hanya aku yang dikejarnya. Setiap kali terdengar suara bang Jojon,"Minyakk...minyaaakk..." hatiku mengkeret. Ditambah orang-orang di sekitarku justru menambah ketakutanku dengan bilang,"Iah awas ada Jojooon", atau bilang,"Bang Jojon.... ada Iah nih!"... tambah deg-degan jantungku.. Dan dengan garangnya (dalam pandanganku waktu itu....hehe), Bang Jojon pun mengejarku sambil memukul jerigen minyaknya)... (huh! bukannya melindungi, malah disodorin...sebel :(
Jadi, setiap aku keluar rumah, aku selalu waspada, kalau-kalau bertemu Bang Jojon di jalan.. Hiks...takut dan capeekk... (Btw, waktu aku sudah SMA terdengar kabar bahwa Bang Jojon sudah meninggal, semoga amal baiknya diterima Allah....amiin ^_^).

Pengalaman keempax, ketika aku bertemu orang di salah satu toko buku terkenal. Waktu itu dia adalah salah satu karyawan toko tersebut dan bertugas di bagian penitipan barang. Usianya kira-kira lebih tua tiga tahun di atasku. Awal mula ketemu ya pas aku ke toko buku tersebut dan menitipkan belanjaanku padanya. Seperti biasa, sekedar basa-basi, aku tersenyum mengucapkan terima kasih padanya ketika selesai dari toko buku dan menerima kembali belanjaanku. Tak dinyana, mungkin karena aku terlalu ramah, dia jadi bertanya macam-macam (pesan moral : makanya jangan senyum sembarangaaannn sama orang asing). Tanya nama, alamat, kerja dimana, de el el. Dan dengan tanpa curiga serta polosnya, aku menjawab semua pertanyaannya, termasuk aku pulang jam berapa dan naik kendaraan apa (so stupid!). Aku mendiamkannya waktu dia bilang mau main ke rumahku. Mulai curiga.
Ketika waktunya aku pulang kantor, aku sudah siap menunggu bus di tempat biasa, dan naiklah aku ketika bus itu sudah datang. Waktu itu aku duduk di paling belakang. Bus belum terlalu penuh, tapi tempat duduk telah terisi semua, jadi kami yang duduk paling belakang bisa melihat penumpang yang duduk di depan. Ketika tanpa sadar aku mengamati penumpang, jantungku deg-degan. Ternyata salah satu penumpang itu adalah karyawan toko buku yang tadi siang kutemui, padahal busku bukanlah rute yang harus dia tempuh untuk pulang. Hiiii...mengkeret hatiku. Terlebih ketika dia menoleh kebelakang dan melihatku dengan senyumnya yang justru menakutkan. Cepat-cepat aku berfikir, bagaimana cara menghindarinya. Ketika dia menoleh ke depan lagi, tepat di salah satu persimpangan jalan, dengan diam-diam aku turun dan segera naik kendaraan lain yang bukan ruteku, supaya dia tidak bisa mengikutiku lagi. Hari itu, aku pulang agak malam, mampir dulu di salah satu masjid yang sepi, sampai waktunya shalat Isya, khawatir masih diikuti olehnya kalau langsung pulang ke rumah... Hiks..... menakutkan.. Sejak saat itu, aku gak pernah berani mampir ke toko buku itu lagi, sampai kuketahui bahwa dia sudah keluar, gak kerja lagi disitu, baru aku berani ke toko itu.. Pyuhhh... Legaaa...


Kelimax.... waktu aku dikejar ayam... cerita soal itu, bacanya disini aja yaaa... Mau istirahat dulu, capek lari-lari terus daritadi.. ^_^

Pssstt : gambar di atas ngambil dari sini

Jangan mengagumi amal perbuatan sampai ia menyelesaikan yang terakhir. (HR. Ath-Thabrani dan Al Bazzar)